Vasektomi

Laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi menjadi masalah tersendiri bagi program pembangunan di negeri ini. Laju sebesar 1,4% per tahun merupakan angka yang cukup besar untuk saat ini(setiap pertumbuhan penduduk di atas 1% per tahun dianggap masih tinggi). Bayangkan saja setiap tahun lahir 3,5 juta bayi di Indonesia, setara dengan penduduk total propinsi istimewa(yay!) Yogyakarta.
Selain isu laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, ada isu kualitas penduduk itu sendiri. Di mana hanya sekitar 2-3% penduduk ini yang berpendidikan S1 ke atas, dan sebagian besar, 30%, merupakan lulusan SD.
Tulisan di atas adalah intermeso dari pelatihan vasektomi yang saya ikuti di Bkkbn propinsi DIY pada hari senin kemarin tgl 6 desember 2010. Pemerintah telah menggalakkan berbagai upaya untuk meningkatkan peran serta KB untuk menekan laju pertumbuhan dengan target Total Fertility Rate sebesar 2,2. Artinya, nanti diharapkan semua ibu hanya memiliki anak kurang lebih 2 saja.
Vasektomi
Apa itu Vasektomi?
Vasektomi atau ‘sterilisasi’ adalah salah satu upaya untuk mencegah kehamilan dengan memotong saluran vas deferens yang bertugas menyalurkan sperma dari testis. Pemotongan ini bersifat tidak permanen, artinya saluran tersebut bisa disambung kembali/rekanalisasi jika si empunya menghendaki di kemudian hari. Keberhasilan Vasektomi dalam mencegah kehamilan sangatlah tinggi.
Apakah vasektomi berpengaruh terhadap ‘kejantanan’?
Vasektomi tidak mempengaruhi kemampuan untuk ereksi. Justru keluarga jadi lebih harmonis karena dapat berhubungan tanpa khawatir hamil.
Untuk siapakah vasektomi itu?
Diharapkan bagi mereka yang sudah mempunyai 2 anak untuk vasektomi.
Apakah vasektomi tidak bertentangan dengan hukum agama(islam)?
Para ulama membolehkan KB (keluarga berencana), dengan pertimbangan bahwa KB dapat menjadi sarana (washilah) untuk mengupayakan adanya keturunan yang lebih berkualitas. Para ulama berijtihad bahwa KB merupakan bentuk dari tanzhim an-nasl (merencanakan keturunan) dan bukan merupakan tahdid an-nasl (memutus keturunan, pemandulan). Di mana tanzhim an-nasl hukumnya mubah (boleh dilakukan) dan tahdid an-nasl hukumnya haram.
Namun yang menjadi persoalan adalah tata cara KB saat ini banyak mengalami perkembangan. Saat ini ada banyak macam tata cara KB, misalnya dengan menggunakan suntik, minum pil, menggunakan kondom, melakukan ‘azl (ketika akan ejakulasi mencabut kemaluan dan mengeluarkan sperma di luar), menggunakan spiral, dan ada juga yang melakukan vasektomi atau tubektomi. Karenanya, KB yang saat ini berkembang tidak serta merta dapat digolongkan sebagai tanzhim an-nasl yang dibolehkan, tapi juga ada yang bisa digolongkan sebagai tahdid an-nasl yang diharamkan, tergantung tata cara KB yang dipergunakan.
Oleh karenanya, saat ini para ulama dalam menghukumi KB akan melihat terlebih dahulu (tafshil), jika KB yang dipakai masuk dalam kategori tanzhim an-nasl (merencanakan keturunan, tidak pemandulan secara tetap sehingga memungkinkan untuk memperoleh keturunan lagi) maka hukumnya boleh (mubah). Sedangkan jika KB yang dipakai masuk dalam kategori tahdid an-nasl (memutus keturunan, di mana menyebabkan pemandulan tetap) maka hukumnya haram. Nah, vasektomi menurut sebagian ulama termasuk dalam kategori tahdid an-nasl karena merupakan upaya pemandulan tetap dengan memotong saluran sperma. Oleh karenanya hukumnya haram, sebagaimana fatwa MUI pada tahun 1979 dan dikukuhkan kembali pada Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se Indonesia ke III tahun 2009.
Memang saat ini ada yang membolehkan vasektomi dengan alasan ditemukannya teknologi yang memungkinkan disambung kembali saluran sperma yang telah dipotong (rekanalisasi). Sehingga menurut pendapat ini alasan hukum (’illah) keharaman vasektomi, yakni pemandulan tetap, dapat dihilangkan, sehingga hukum vasektomi menjadi boleh (mubah), sesuai dengan kaidah:

“Hukum sesuatu tergantung pada ada-tidaknya alasan hukumnya”

“hilangnya hukum sesuatu disebabkan oleh hilangnya alasan hukum (‘illah)nya”

Namun MUI tidak setuju dengan pendapat ini. Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se Indonesia tahun 2009 yang diikuti oleh sekitar 750 ulama dari seluruh Indonesia tetap mengharamkan vasektomi, dengan alasan bahwa upaya rekanalisasi (penyambungan kembali) saluran sperma yang telah dipotong tidak menjamin pulihnya tingkat kesuburan kembali yang bersangkutan, sehingga vasektomi tergolong kategori tahdid an-nasl yang diharamkan. Keterangan bahwa upaya rekanalisasi (penyambungan kembali) saluran sperma yang telah dipotong tidak menjamin pulihnya tingkat kesuburan tersebut sebagaimana penjelasan dari Prof. Dr. Farid Anfasa Moeloek dari bagian Obsteri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UI dan Furqan Ia Faried dari BKKBN.
Namun saya dengar, ada ulama yang membolehkan dengan nash-nash tertentu, jika kurang yakin sebaiknya anda berkonsultasi dulu jika ingin melakukan vasektomi. Saya sebenarnya kurang sreg dengan vasektomi, namun saya anggap saja sebagai ilmu.

Wallahu A’lam.

dari berbagai sumber.
sumber artikel lain:http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=74:hukum-kb-dan-vasektomi&catid=47:materi-konsultasi&Itemid=66

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s