Angioedema pada pasien hipertensi dalam treatment ACE inhibitor

Anda seorang dengan hipertensi dan dalam pengobatan menggunakan obat seperti captopril, enalapril, dan ACE inhibitor lainnya? Mungkin pernah merasa bibir dan lidah serasa bengkak? Mungkin anda terkena angioedema.
Saya kutip dari Pharmacotherapy Handbook(Wells, Barbara G.; DiPiro, Joseph T.; Schwinghammer, Terry L.; Hamilton, Cindy W.Title: Pharmacotherapy Handbook, 6th EditionCopyright ©2006 McGraw-Hill), ternyata ada pernyataan sebagai berikut: “Angioedema is a serious potential complication that occurs in less than 2% of patients. It may be manifested as lip and tongue swelling and possibly difficulty breathing. Drug withdrawal is appropriate for all patients with angioedema, and some patients may also require drug treatment and/or emergent intubation. Cross-reactivity between ACE inhibitors and ARBs has been reported.” Terjemahan lepasanya kira-kira begini: anioedema adalah komplikasi serius potensial yang terjadi pada kurang dari 2 % pasien. Ia bermanifestasi sebagai pembengkakan bibir dan lidah dan kemungkinan kesulitan bernafas. Penarikan obat adalah tepat dilakukan pada semua pasien dengan angioedema, dan beberapa pasien dapat membutuhkan pengobatan farmakologis dan atau intubasi segera. Reaksi silang antara inhibitor ACE dan ARB telah dilaporkan.
Jika anda merasakan gejala-gejala di atas, segera hubungi dokter anda karena komplikasi serius yang bisa ditimbulkannya.

7 comments on “Angioedema pada pasien hipertensi dalam treatment ACE inhibitor

  1. Cahya says:

    Lalu apa terapi penggantinya kalau ACE inhibitor komplikasi begitu pada seseorang Dok?

    • pushw2kplay says:

      Angiotensin Receptor blocker kayak candesartan(Blopres),,ca Channel blocker…banyak kok, baca buku ya dokter Cahya, biar pasien kita aman!! mencari uang dengan cara yang baik dan aman!!^.^

  2. ridhaniar says:

    diobati nganggo opo le angioedema ne? dijarke wae po mari?

    • pushw2kplay says:

      kasih antihistamin,, dan hentikan ACE inhibitornya, kalo gak kurangi dosisnya…pake ARB…ato Atihipertensi lainnya…

  3. Cahya says:

    Mesti harus sedia MIMS atau sebangsanya di meja kerja…😀

  4. ekosulistyaningrum says:

    Seorang pasien lanjut usia menderita hipertensi dengan komplikasi gagal ginjal kronis.

    1.Pertimbangan apa yang diperlukan pada saat pemilihan obat antihipertensi?

    2.Obat antihipertensi apa yang tergolong aman untuk kondisi tsb?

    3.Mengapa hipertensi sering menimbulkan masalah komplikasi?

    • Gunawan Wisnu says:

      waduh, kayak pertanyaan ujian, heheh…saya bukan seorang farmakolog, tapi akan saya jawab:
      1. memilih obat antihipertensi yang tepat adalah masalah yang rumit. Tergantung dari tekanan darahnya, biasanya dokter memilah-milah mana yang membutuhkan obat A, B, C, dan seterusnya berdasarkan Tekanan Darahnya:
      – Untuk semua orang dengan hipertensi atau pre hipertensi( tekanan darah 120/80 hingga 139/89): lakukan olahraga teratur, jaga diet, hindari stres, biasanya anda tidak perlu obat jika bandan anda sehat.
      – Untuk hipertensi stage 1(tekanan darah 140/90-159/99): pilihan pertama untuk mengatasi ini biasanya adalah menggunakan diuretik golongan thiazide. Selain menurunkan TD, ia melindungi dari komplikasi lain seperti stroke dan gagal jantung. Namun tidak mutlak hanya menggunakan obat jenis ini tergantung dari kondisi anda, dokter bisa meresepkan obat lain, seperti: ACE inhibitor(captopril, dll), bloker reseptor Angiotensin 2, penyekat kanal kalsium(nifedipin, dll), beta bloker. Kadang dokter memutuskan menggunakan 2 macam obat. Keuntungan menggunakan lebih dari satu obat adalah efek samping yang diterima lebih sedikit karena dosis masing-masing obat diperkecil dan efek penurunan TD lebih cepat dicapai.

      2. Sayang, ibu tidak mencantumkan data klinis semacam kadar ureum, kreatinin darah, protein ,dll. Namun biasanya pada penderita gagal ginjal digunakan ACE inhibitor dosis rendah 3 x 6,25 mg. Telah banyak studi yang membandingkan efektifitas ACE inhibitor dengan antihipertensi lain, seperti angiotensin 2 receptor blocker, ternyata tidak ada bedanya meskipun Angiotensin 2 receptor blocker lebih mahal harganya. Saya lebih menyukai Captopril, tapi jika pasien tidak toleran thd efek samping, bisa diganti obat lain. Konsultasikan dengan ahli ginjal& hipertensi.
      3. Ibarat sebuah pipa, pembuluh darah kita sudah di set oleh Yang Maha Kuasa untuk memiliki tekanan tertentu yang memungkinkan perfusi organ terjaga dengan baik, sehingga berfungsi dengan baik. Jika terjadi tekanan darah tinggi, maka akan terjadi berbagai konsekuensi. Misalnya, pada penderita gagal jantung akibat penyakit hipertensi, hipertensi mengakibatkan jantung bekerja lebih keras setiap harinya, akibatnya otot jantung menebal sebagai konsekuensinya, hal ini lsebagai konsekuensinya mengakibatkan gangguan hemodinamika cardiovascular sehingga orang tersebut mudah sesak nafas, sebagai contohnya. Jadi hipertensi ini multidimesional kerusakannya. Anda bisa mencari info lebih banyak di internet. Maaf tidak saya bahas semua di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s